Materi kehamilan


KONSEP DASAR 
ASUHAN KEHAMILAN
(ANTENATAL CARE)
1. Kehamilan merupakan proses yang alamiah. Perubahan￾perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan 
normal adalah bersifat fisiologis, bukan patologis. Oleh 
karenanya, asuhan yang diberikan pun adalah asuhan 
yang meminimalkan intervensi. Bidan harus memfasilitasi3
Konsep Dasar Asuhan Kehamilan (Antenatal Care)
proses alamiah dari kehamilan dan menghindari tindakan￾tindakan yang bersifat medis yang tidak terbukti 
manfaatnya. Bidan juga harus mampu melakukan asuhan 
kebidanan sesuai dengan standar dan kompetensinya. 
2. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan 
pelayanan (continuity of care). Sangat penting bagi wanita 
untuk mendapatkan pelayanan dari seorang profesional 
yang sama atau dari satu team kecil tenaga profesional, 
sebab dengan begitu maka perkembangan kondisi mereka 
setiap saat akan terpantau dengan baik selain juga mereka 
menjadi lebih percaya dan terbuka karena merasa sudah 
mengenal si pemberi asuhan (Enkin, 2000). 
3. Pelayanan yang terpusat pada wanita (women centered) serta 
keluarga (family centered). Wanita (ibu) menjadi pusat asuhan 
kebidanan dalam arti bahwa asuhan yang diberikan harus 
berdasarkan pada kebutuhan ibu, bukan kebutuhan dan 
kepentingan bidan. Asuhan yang diberikan hendaknya 
tidak hanya melibatkan ibu hamil saja melainkan juga 
keluarganya, dan itu sangat penting bagi ibu sebab keluarga 
menjadi bagian integral/ tak terpisahkan dari ibu hamil. 
Sikap, perilaku, dan kebiasaan ibu hamil sangat dipengaruhi 
oleh keluarga. Kondisi yang dialami oleh ibu hamil juga 
akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Selain itu, 
keluarga juga merupakan unit sosial yang terdekat dan 
dapat memberikan dukungan yang kuat bagi anggotanya. 
(Lowdermilk, Perry, Bobak. 2000). Dalam hal pengambilan 
keputusan haruslah merupakan kesepakatan bersama 
antara ibu, keluarganya, dan bidan, dengan ibu sebagai 
penentu utama dalam proses pengambilan keputusan. 
Ibu mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan 
kepada siapa dan dimana ia akan memperoleh pelayanannya.
4. Asuhan kehamilan menghargai hak ibu hamil untuk 
berpartisipasi dan memperoleh pengetahuan/ pengalaman 
yang berhubungan dengan kehamilannya. Tenaga 
profesional kesehatan tidak mungkin terus menerus 
mendampingi dan merawat ibu hamil, karenanya ibu 
hamil perlu mendapat informasi dan pengalaman agar 
dapat merawat diri sendiri secara benar. Perempuan 
harus diberdayakan untuk mampu mengambil keputusan 
tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui tindakan 
KIE dan konseling yang dilakukan bidan. 
B. Lingkup Asuhan Kehamilan
Ruang lingkup asuhan kehamilan meliputi asuhan 
kehamilan normal dan identifikasi kehamilan dalam rangka 
penapisan untuk menjaring keadaan risiko tinggi dan mencegah 
adanya komplikasi kehamilan.
C. Prinsip-Prinsip Pokok Asuhan Kehamilan
1. Kehamilan dan kelahiran adalah suatu proses yang normal, 
alami dan sehat
Sebagai bidan kita meyakini bahwa model asuhan 
kehamilan yang membantu serta melindungi proses 
kehamilan dan kelahiran normal adalah yang paling 
sesuai bagi sebagian besar wanita. Tidak perlu melakukan 
intervensi yang tidak didukung oleh bukti ilmiah (evidence￾based practice).
2. Pemberdayaan
Ibu adalah pelaku utama dalam asuhan kehamilan. 
Oleh karena itu, bidan harus memberdayakan ibu (dan 
keluarga) dengan meningkatkan pengetahuan dan 
pengalaman mereka melalui pendidikan kesehatan agar 
dapat merawat dan menolong diri sendiri pada kondisi
Otonomi
Pengambil keputusan adalah ibu dan keluarga. Untuk 
dapat mengambil suatu keputusan mereka memerlukan 
informasi. 
3.memberikan informasi yang 
akurat tentang risiko dan manfaat dari semua prosedur, 
obat-obatan, maupun test/ pemeriksaan sebelum mereka 
memutuskan untuk menyetujuinya. Dan juga harus 
membantu ibu dalam membuat suatu keputusan tentang 
apa yang terbaik bagi ibu dan bayinya berdasarkan sistim 
nilai dan kepercayaan ibu/ keluarga.
4. Tidak membahayakan
Intervensi harus dilaksanakan atas dasar indikasi 
yang spesifik, bukan sebagai rutinitas sebab test-test 
rutin, obat, atau prosedur lain pada kehamilan dapat 
membahayakan ibu maupun janin. Bidan yang terampil 
harus tahu kapan ia harus melakukan sesuatu dan 
intervensi yang dilakukannya haruslah aman berdasarkan 
bukti ilmiah. 
5. Tanggung jawab
Asuhan kehamilan yang diberikan perawat harus 
selalu didasari ilmu, analisa, dan pertimbangan yang 
matang. Akibat yang timbul dari tindakan yang dilakukan. Pelayanan yang diberikan harus berdasarkan kebutuhan ibu dan janin, bukan atas. Asuhan yang berkualitas, berfokus 
pada klien. 
Tujuan utama antenatal care adalah menurunkan/ 
mencegah kesakitan dan kematian maternal dan perinatal. 
Adapun tujuan khususnya adalah:
1. Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan 
kesehatan ibu dan perkembangan bayi yang normal.
2. Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan 
memberikan penatalaksanaan yang diperlukan.
3. Membina hubungan saling percaya antara ibu dan Tenaga medis
dalam rangka mempersiapkan ibu dan keluarga secara 
fisik, emosional, dan logis untuk menghadapi kelahiran 
serta kemungkinan adanya komplikasi.
F. Refocusing Asuhan Kehamilan
Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia 
(SDKI.2007) menunjukkan angka kematian ibu akibat 
melahirkan sebesar 228 per 10 ribu kelahiran hidup yang 
merupakan angka tertinggi di Asia Tenggara dengan penyebab 
utama adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Sebenarnya 
bidan memiliki peran penting dalam mencegah dan atau 
menangani setiap kondisi yang mengantenatal care jiwa ini 
melalui beberapa intervensi yang merupakan komponen 
penting dalam antenatal care seperti: mengukur tekanan darah, 
memeriksa kadar proteinuria, mendeteksi tanda-tanda awal 
perdarahan/ infeksi, maupun deteksi dan penanganan awal 
terhadap anemia. Namun ternyata banyak komponen antenatal care yang rutin dilaksanakan tersebut tidak efektif untuk 
menurunkan angka kematian maternal dan perinatal. 
Fokus lama antenatal care:
1. Mengumpulkan data dalam upaya mengidentifikasi ibu 
yang berisiko tinggi dan merujuknya untuk mendapatkan 
asuhan khusus.
2. Temuan-temuan fisik (Tinggi Badan, Berat Badan, ukuran 
pelvik, edema kaki, posisi dan presentasi janin di bawah 
usia 36 minggu dan sebagainya) yang memperkirakan 
kategori risiko ibu.
3. Pengajaran/ pendidikan kesehatan yang ditujukan untuk 
mencegah risiko/ komplikasi 
Hasil-hasil penelitian yang dikaji oleh WHO 
(Maternal Neonatal Health) menunjukkan bahwa:
1. Pendekatan risiko mempunyai prediksi yang buruk karena 
kita tidak bisa membedakan ibu yang akan mengalami 
komplikasi dan yang tidak. Hasil studi di Kasango 
(Zaire) membuktikan bahwa 71% ibu yang mengalami 
partus macet tidak terprediksi sebelumnya, dan 90% ibu 
yang diidentifikasi sebagai berisiko tinggi tidak pernah 
mengalami komplikasi.
2. Banyak ibu yang digolongkan dalam kelompok risiko 
tinggi tidak pernah mengalami komplikasi, sementara 
mereka telah memakai sumber daya yang cukup mahal dan 
jarang didapat. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian 
asuhan khusus pada ibu yang tergolong dalam kategori 
risiko tinggi terbukti tidak dapat mengurangi komplikasi 
yang terjadi (Enkin, 2000: 22).
3. Memberikan keamanan palsu sebab banyak ibu yang 
tergolong kelompok risiko rendah mengalami komplikasi 
tetapi tidak pernah diberitahu bagaimana cara mengetahui 
dan apa yang dapat dilakukannya.
Pelajaran yang dapat diambil dari pendekatan risiko: 
adalah bahwa setiap bumil berisiko mengalami komplikasi 
yang sangat tidak bisa diprediksi sehinggasetiap bumil harus 
mempunyai akses asuhan kehamilan dan persalinan yang 
berkualitas. Karenanya, fokus antenatal care perlu diperbarui 
(refocused) agar asuhan kehamilan lebih efektif dan dapat 
dijangkau oleh setiap wanita hamil.
Isi refocusing Antenatal Care:
Penolong yang terampil/terlatih harus selalu tersedia 
untuk:
1. Membantu setiap ibu hamil dan keluarganya membuat 
perencanaan persalinan: petugas kesehatan yang terampil, 
tempat bersalin, keuangan, nutrisi yang baik selama 
hamil, perlengkapan esensial untuk ibu-bayi). Penolong 
persalinan yang terampil menjamin asuhan normal yang 
aman sehingga mencegah komplikasi yang mengantenatal 
caream jiwa serta dapat segera mengenali masalah dan 
merespon dengan tepat.
2. Membantu setiap bumil dan keluarganya mempersiapkan 
diri menghadapi komplikasi (deteksi dini, menentukan orang 
yang akan membuat keputusan, dana kegawatdaruratan, 
komunikasi, transportasi, donor darah) pada setiap 
kunjungan. Jika setiap bumil sudah mempersiapkan diri 
sebelum terjadi komplikasi maka waktu penyelamatan jiwa 
tidak akan banyak terbuang untuk membuat keputusan, 
mencari transportasi, biaya, donor darah, dan sebagainya.
3. Melakukan skrining/ penapisan kondisi-kondisi yang 
memerlukan persalinan RS (riwayat Sectio Caesarea, Intra 
Uterine Fetal Death, dan sebagainya). Ibu yang sudah tahu 
kalau ia mempunyai kondisi yang memerlukan kelahiran di 
RS akan berada di RS saat persalinan, sehingga kematian 
karena penundaan keputusan, keputusan yang kurang m hal jangkauan akan dapat 
dicegah.
4. Mendeteksi dan menangani komplikasi (preeklamsia, 
perdarahan pervaginam, anemia berat, penyakit menular 
seksual, tuberkulosis, malaria, dan sebagainya). 
5. Mendeteksi kehamilan ganda setelah usia kehamilan 
28 minggu, dan letak/ presentasi abnormal setelah 36 
minggu. Ibu yang memerlukan kelahiran operatif akan 
sudah mempunyai jangkauan pada penolong yang terampil 
dan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan.
6. Memberikan imunisasi Tetanus Toxoid untuk mencegah 
kematian BBL (bayi baru lahir) karena tetanus.
7. Memberikan suplementasi zat besi dan asam folat. 
Umumnya anemia ringan yang terjadi pada bumil adalah 
anemia defisiensi zat besi dan asam folat.
8. Untuk populasi tertentu: 
a. Profilaksis cacing tambang (penanganan presumtif) 
untuk menurunkan insidens anemia berat, 
b. Pencegahan/ terapi preventif malaria untuk 
menurunkan risiko terkena malaria di daerah 
endemik
c. Suplementasi yodium
d. Suplementasi vitamin A
G. Standar Asuhan Kehamilan
Sebagai profesional bidan, dalam melaksanakan 
praktiknya harus sesuai dengan standard pelayanan kebidanan 
yang berlaku. Standard mencerminkan norma, pengetahuan 
dan tingkat kinerja yang telah disepakati oleh profesi. Penerapan 
standard pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat 
karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan dapat 
dilakukan atas dasar yang jelas. Kelalaian dalam praktik terjadi 
bila pelayanan yang diberikan tidak memenuhi standard dan 
terbukti membahayakan. Peran dan tanggungjawab perawat dalam memberikan asuhan kehamilan adalah:
1. Membantu ibu dan keluarganya untuk mempersiapkan 
kelahiran dan kedaruratan yang mungkin terjadi.
2. Mendeteksi dan mengobati komplikasi yang mungkin 
timbul selama kehamilan, baik yang bersifat medis, bedah 
maupun tindakan obstetrik.
3. Meningkatkan dan memelihara kesehatan fisik, mental 
dan sosial ibu serta bayi dengan memberikan pendidikan, 
suplemen dan imunisasi.
4. Membantu mempersiapkan ibu untuk memnyususi bayi, 
melalui masa nifas yang normal serta menjaga kesehatan 
anak secara fisik, psikologis dan social.
∆.TERMINATOLOGI yang umum pada ANTENATAL CARE  (Role Play)
1. Abortus adalah pengeluaran buah kehamilan (hasil konsepsi ) sebelum akhir Minggu ke 20.
2. Antenatal Care adalah asuhan yang diberikan untuk ibu 
sebelum persalinan atau prenatal care
3. Antenatal/ antepartum adalah sebelum persalinan
4. Neonatal dini adalah tujuh hari pertama setelah bayi lahir 
(usia bayi 0-7 hari)
5. Ektopik adalah suatu kehamilan yang terjadi diluar rahim
6. DJJ (Detak Jantung Janin): dihitung selama 1 menit dengan 
nilai normal 120 sampai 160 permenit
7. Gestasi adalah usia kehamilan atau lamanya waktu sejak 
konsepsi
8. Gravida adalah jumlah berapa kali seorang wanita hamil/ 
jumlah kehamilan
9. Haemoglobin adalah salah satu tindakan laboratorium 
yang dilakukan pada masa antenatal care
10. Intrapartum adalah selama dalam persalinan
11. IUFD adalah Intra Uterine Fetal Death atau kematian 
janin dalam rahim
12. IUGR atau Intra Uterine Growth retardation/ Restriction 
adalah pertumbuhan janin yang terlambat didalam rahim
13. LMP adalah Last Menstrual period atau hari pertama haid 
terakhir
14. Multigravida adalah seorang wanita yang sudah pernah 
hamil 2 kali atau lebih
15. Multipara adalah seorang wanita yang sudah mengalami 
hamil dengan usia kehamilan minimal 28 minggu dan 
telah melahirkan buah kehamilannya 2 kali atau lebih
16. Neonatal adalah 28 hari pertama setelah bayi lahir (usia 
bayi 0-28 hari)
17. Nulligravida adalah seorang wanita yang belum pernah 
hamil
18. Nullipara adalah seorang wanita yang belum pernah 
melahirkan dengan usia kehamilan lebih dari 28 minggu/ belum pernah melahirkan janin yang mampu hidup diluar 
rahim 
19. Paritas atau para adalah jumlah kehamilan yang 
menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28 
minggu)
20. Parturience adalah seorang wanita yang sedang dalam 
persalinan
21. Parturient atau confinement adalah proses persalinan dan 
kelahiran
22. Perinatal adalah periode antara 28 minggu usia kehamilan 
dan hari ke 28 setelah bayi lahir
23. Postnatal atau postpartum adalah masa setelah persalinan
24. PPH atau Postpartum Hemorrhage adalah perdarahan 
yang hebat setelah persalinan / perdarahan paska 
persalahan
25. Premature adalah seorang bayi yang lahir pada usia 
kehamilan antara 28 dan 37 minggu
26. Prenatal adalah selama kehamilan
27. Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk 
pertama kalinya
28. Primipara adalah seorang wanita yang baru pertama kali 
melahirkan dimana janin mencapai usia kehamilan 28 
minggu atau lebih
29. A term atau full term adalah seorang bayi yang lahir setelah 
usia kehamilan 37 minggu
30. Trimester adalah periode selama 3 bulan (Buku Panduan 
Asuhan pada Antenatal, Depkes RI, 2000)
Rangkuman
Filosofi adalah pernyataan mengenai keyakinan dan 
nilai/value yang dimiliki yang berpengaruh terhadap perilaku 
seseorang/kelompok (Pearson dan Vaughan, 1986 cit. Bryar, 1995:17).
Ruang lingkup asuhan kehamilan meliputi asuhan
kehamilan normal dan identifikasi kehamilan dalam rangka
penapisan untuk menjaring keadaan risiko tinggi dan mencegah
adanya komplikasi kehamilan.
Tujuan utama antenatal care adalah menurunkan/
mencegah kesakitan dan kematian maternal dan perinatal.
Adapun tujuan khususnya adalah:
1. Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan
kesehatan ibu dan perkembangan bayi yang normal.
2. Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan
memberikan penatalaksanaan yang diperlukan.
3. Membina hubungan saling percaya antara ibu dan bidan
dalam rangka mempersiapkan ibu dan keluarga secara
fisik, emosional, dan logis untuk menghadapi kelahiran
serta kemungkinan adanya komplikasi.
Kunjungan Antenatal Care
Kunjungan Waktu Alasan
Trimester I Sebelum
14 minggu.
a. Mendeteksi masalah yang dapat
ditangani sebelum membahayakan
jiwa.
b. Mencegah masalah, misal: tetanus
neonatal, anemia, kebiasaan
tradisional yang berbahaya)
c. Membangun hubungan saling
percaya
d. Memulai persiapan kelahiran dan
kesiapan menghadapi komplikasi.
e. Mendorong perilaku sehat (nutrisi,
kebersihan, olahraga, istirahat, seks,
dan sebagainya).
Trimester II 14–28
minggu
Sama dengan trimester I ditambah:
kewaspadaan khusus terhadap
hipertensi kehamilan (deteksi
gejala preeklamsia, pantau Tekanan
Darah, evaluasi edema, proteinuria)
Trimester III 28–36minggu Sama,ditambah: deteksi kehamilan ganda.
Setelah 36 minggu Sama, ditambah: deteksi kelainan letak atau kondisi yang memerlukan persalinan di RS.
∆.Pengkajian data Fokus
1) Anamnesa, meliputi:
a) Informasi biodata: nama, umur, pekerjaan,
nama suami, agama & alamat
b) Riwayat kehamilan sekarang, meliputi: HPHT
dan apakah normal, Gerak janin (kapan mulai
dirasakan dan apakah ada perubahan yang
terjadi), Masalah atau tanda-tanda bahaya
(termasuk rabun senja), Keluhan-keluhan lazim
pada kehamilan, Penggunaan obat-obatan
(termasuk jamu-jamuan), dan Kekhawatiran￾kekhawatiran lain yang dirasakan
c) Riwayat kebidanan yang lalu, meliputi: Jumlah
kehamilan, anak yang lahir hidup, peersalinan
aterm, persalinan prematur, abortus, persalinan
dengan tindakan (forseps, vakum atau operasi
seksio sesarea), Riwayat perdarahan pada
kehamilan, persalinan atau nifas sebelumnya,
Hipertensi disebabkan kehamilan pada
kehamilan sebelumnya, Berat bayi sebelumnya
< 2,5 kg atau > 4 kg, dan Masalah-masalah
lain yang dialami
d) Riwayat kesehatan termasuk penyakit-penyakit
yang diidap dahulu dan sekarang, seperti:
Masalah-masalah cardiovascular, Hipertensi,
Diabetes mellitus, Malaria, PMS atau HIV/
AIDS, Imunisasi tetanus dan lain-lain.
e) Riwayat sosial-ekonomi, meliputi: Status
perkawinan, Respon orang tua dan keluarga .terhadap kehamilan ini, Riwayat KB, 
Dukungan keluarga, Pengambilan keputusan 
dalam keluarga, Kebiasaan makan dan gizi 
yang dikonsumsi dengan fokus pada vitamin A 
dan zat besi, Kebiasaan hidup sehat meliputi, 
kebiasaan merokok, minum obat atau alkohol, 
Beban kerja dan kegiatan sehari-hari, dan 
Tempat melahirkan dan penolong persalinan 
yang diinginkan
2) Pemeriksaan Fisik dan Tes Laboratorium
Tujuan dari pemeriksaan fisik dan 
tes laboratorium adalah untuk mendeteksi 
komplikasi-komplikasi kehamilan, sehingga dapat 
menurunkan kematian ibu dan neonatus.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan 
adalah pemeriksaan laboratorium sederhana yang 
meliputi:
a) Pemeriksaan Urin
Dalam pemeriksaan urin ada 2 hal yang 
diperiksa yaitu kadar protein dan glukosa 
dalam urin.
(1) Pemeriksaan protein dalam urin
Yaitu pemeriksaan untuk 
mengetahui ada tidaknya protein dalam 
urin. Pemeriksaan ini penting dilakukan 
untuk menegakkan diagnosa atau deteksi 
faktor risiko ibu hamil. Pemeriksaan ini 
dilakukan pada kunjungan pertama dan 
setiap kunjungan pada akhir trimester II 
sampai trimester III kehamilan.
(2) Pemeriksaan glukosa dalam urin
Reagen yang digunakan: Benedict reagen.
∆. Komponen-komponen dari pemeriksaan fisik:
a) Pemeriksaan fisik umum: Tinggi badan, berat badan
dan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi dan suhu)
b) Kepala dan leher: Oedema di wajah, ikterus pada mata,
mulut pucat, leher meliputi pembengkakan saluran
limfe atau pembengkakan kelenjar tiroid
c) Tangan dan kaki: Oedema di jari tangan, kuku jari
pucat, varices vena dan refleks-refleks.
d) Payudara: Ukuran, simetris, puting payudara
(menonjol/masuk), keluarnya kolostrum atau cairan
lain, retraksi/dimpling, massa dan nodul axilla
e) Abdomen
 Luka bekas operasi
 Tinggi fundus uteri (jika lebih dari 12 minggu)
Dilakukan untuk menetukan tuanya usia
kehamilan, dilakukan dengan menggunakan pita
ukur. Caranya adalah sebagai berikut:
a) Pemeriksa berdiri disamping kanan pasien menghadap ke muka pasien
b) Pasien diminta menekuk lututnya sedikit
c) Dengan kedua belah tangan, diraba 
bagian samping dan fundus uteri dengan 
memanfaatkan kepekaan telapak jari-jari 
tangan
d) Kemudian tentukan tinggi fundus uteri dengan 
cara rahim ditegangkan dg tangan kanan, 
tangan kiri diletakkan pada fundus uteri dan 
tentukan batasnya dengan jari tangan kiri.
e) Tempatkan pita ukur dg angka 0 di simpisis 
pubis kemudian rentangkan kea rah fundus 
uteri
 Palpasi untuk mengetahui: letak, presentasi, posisi 
dan penurunan kepala (kalau > 36 minggu)
Tahap-tahap pemeriksaan menurut Leopold 
adalah sebagai berikut:
a) Tahap persiapan pemeriksaan Leopold 
b) Penderita tidur terlentang dengan kepala lebih 
tinggi
c) Kedudukan tangan pada saat pemeriksaan 
dapat diatas kepala atau membujur disamping 
badan.
d) Kaki ditekukan sedikit pada Leopold III dan 
IV sehingga dinding perut lemes
e) Bagian perut dibuka seperlunya
f) Pemeriksa menghadap ke muka pasien saat 
melakukan pemeriksaan Leopold I sampai 
III, sedangkan saat melakukan pemeriksaan 
Leopold IV pemeriksa menghadap ke kaki.
 Tahap pemeriksaan Leopold
Leopold I - Kedua telapak tangan pada fundus uteri untuk 
menentukan tinggi fundus uteri, sehingga 
perkiraan umur kehamilan dapat disesuaikan 
dengan hari pertama haid terakhir
- Bagian apa yang terletak di fundus uteri. Pada 
letak sungsang (teraba kepala bulat, keras dan 
melenting pada goyangan), pada letak kepala 
(teraba bokong: tidak bulat, tidak teraba 
keras dan tidak melenting), pada letak lintang 
(fundus uteri tidak diisi oleh bagian-bagian 
janin)
Leopold II
- Kemudian kedua tangan diturunkan 
menelusuri tepi uterus untuk menetapkan 
bagian apa yang terletak di bagian samping.
- Letak membujur dapat ditetapkan punggung 
janin, yang teraba rata dengan tulang iga 
seperti papan
- Pada letak lintang dapat ditetapkan dimana 
kepala janin
Leopold III
- Menetapkan bagian apa yang terdapat di atas 
simpisis pubis. Kepala akan teraba bulat dan 
keras, sedangkan bokong teraba tidak keras 
dan tidak melenting, dan pada letak lintang 
simpisis pubis teraba kosong.
Leopold IV
- Pada apemeriksaan Leopold IV, pemeriksa 
menghadap kearah kaki penderita untuk 
menetapkan bagian terendah janin yang 
masuk ke PAP. Bila bagian terendah masuk 
PAP telh melampaui lingkaran terbesarnya, maka tangan yang melakukan pemeriksa 
divergen, sedangkan bila lingkaran terbesarnya 
belum masuk PAP maka tangan pemeriksa 
konvergen.
f) Denyut jantung janin (jika > 18 minggu)
Setelah punggung janin dapat ditetapkan, diikuti 
dengan pemeriksaan denyut jantung janin, yaitu 
sebagai berikut.
1) Kaki ibu hamil diluruskan sehingga punggung 
janin lebih dekat dengan dinding perut ibu
2) Pungtum maksimum denyut jantung janin 
ditetapkan di sekitar scapula
3) Denyut jantung janin dihitung selama satu menit. 
Denyut jantung janin normal 100 – 180 kali/
menit.
g) Genitalia externa
Varises, perdarahan, luka, cairan yang keluar, 
pengeluaran dari uretra dan skene, kelenjar bartholin: 
bengkak (massa), cairan yang keluar.
h) Genitalia interna
1) Servik meliputi: cairan yang keluar, luka (lesi), 
kelunakan, posisi, mobilitas, tertutup atau 
membuka.
2) Vagina meliputi cairan yang keluar, luka, darah
3) Ukuran adneksa, bentuk, posisi, nyeri, kelunakan, 
massa (pada trimester pertama)
4) Uterus meliputi: ukuran, bentuk, posisi, mobilitas, 
kelunakan, massa (pada trimester pertama).